Arsip untuk Mei, 2012

Jangan Bagikan Ini dengan Kekasih Anda!

Dalam sebuah hubungan, Anda mendedikasikan diri untuk cinta dan mengharapkan hal yang sama dari pasangan Anda. Adalah normal untuk berbagi hal-hal dan ide dengan pasangan Anda, tapi terkadang berbagi justru bisa berbahaya.

Kadang-kadang sebuah hubungan disebut sehat bila ada beberapa hal yang tidak Anda bagi dengan pasangan. Apa saja itu, boldsky membaginya dengan Anda:

Pasword facebook
Facebook adalah jaringan sosial paling baik saat ini di dunia. Jika Anda memiliki lebih banyak teman lawan jenis, sebaiknya pasword Anda tidak dibagi dengan pasangan Anda.

SMS
Mirip dengan mengobrol di situs jejaring sosial, chatting di ponsel melalui semua pesan lebih umum. Untuk kehidupan cinta yang sehat sebaiknya hindari berbagi pesan Anda dengan ponsel pasangan Anda.

Nomer teman
Anda mungkin percaya pasangan Anda, tetapi berbagi nomor teman dapat berisiko. Percaya dengan teman pria atau teman wanita adalah etika tetapi jangan percaya begitu saja. Jadi berhati-hatilah jika Anda berbagi nomor teman Anda dengan pasangan Anda.

Tabungan
Hal ini lebih berlaku untuk pria. Jika Anda mengungkapkan jumlah tabungan Anda, maka pasangan mungkin minta dibelikan sesuai misalnya cincin baru. Tapi ketika Anda tidak setuju, dia akan membahas saldo Anda. Ini akan menyebabkan perkelahian, sebaiknya dihindari.

Rahasia tersembunyi
Jangan pernah berbagi rahasia tersembunyi dengan pasangan Anda. Jika Anda memiliki kehidupan cinta yang bahagia, maka jangan pernah berpikir berbagi masa lalu dengan pasangan Anda. Adalah umum memiliki hubungan masa lalu, tetapi Anda harus tahu pasangan tidak akan menghargai itu.

Iklan

Aku Adalah Pelayanmu

Siang hari yang terik menggersangkan padang pasir di seluruh penjuru kota. Tidak seorang pun yang kuat menahan panasnya. Unta-unta pun berteduh di bawah bayangan masjid.

Lewatlah sesosok lelaki yang berjalan terburu-buru sambil menutup mukanya menembus panas terik dan angin berdebu. Mungkinkah ia lelaki asing yang sedang mencari tempat berlindung?

Tidak lama kemudian lelaki itu kembali lagi menantang terik matahari yang menyengat. Namun, kali ini ia menyeret seekor sapi yang enggan melakukan perjalanan sulit tersebut. Utsman bin Affan r.a yang mengamati keseluruhan peristiwa sejak awal dari jendela rumahnya tergerak untuk menolong orang tersebut.

Sungguh tak habis pikir, di saat orang lain beristirahat di dalam rumah yang teduh dan hewan-hewan piaraan memilih untuk bermalas-malasan, tetapi orang ini rela berpanas-panasan. Ada apa gerangan? Siapakah orang itu? Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Utsman r.a.

Ketika Utsman r.a. menyapa orang tersebut, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa lelaki yang sedang kesusahan di hadapannya adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab r.a. Utsman r.a pun segera menyambutnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan, wahai Amirul Mukminin?”

“Tidakkah kaulihat aku sedang menyeret sapi?” jawab Umar r.a.

Sebenarnya bukan jawaban itu yang diharapkan Utsman r.a. Sudah tentu ia mengetahui sahabatnya sedang menyeret sapi, tetapi mengapa ia melakukannya di siang terik? Bukanlah karakter sahabatnya jika mengkhawatirkan harta bendanya hingga seperti ini. Utsman r.a kembali bertanya, “Mengapa kau menggiring sapi itu di siang terik seperti ini? Begitu mendesakkah keadaanmu?”

Umar r.a kembali menjelaskan, “Ini adalah salah satu sapi sedekah kepunyaan anak-anak yatim yang tiba-tiba terlepas dari kandangnya dan lari ke jalanan. Aku langsung mengejarnya dan alhamdulillah dapat kutangkap!”

Utsman r.a tersentak mendengar jawaban sang Amirul Mukminin, “Tidakkah ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan itu? Bukankah kau seorang khalifah? Kau bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya?” tanya Utsman r.a.

Umar r.a menggeleng dan berkata tegas, “Apakah orang itu bersedia menanggung dosaku di hari perhitungan kelak? Maukah ia memikul tanggung jawabku di hadapan Allah? Kekuasaan itu adalah amanah bukan kehormatan.”

“Berisitirahatlah dulu di tempatku hingga panas meredup, lalu kau bisa melanjutkan perjalananmu,” tawar Utsman r.a dengan hati bergetar setelah mendengar penjelasan sang Khalifah.

“Kembalilah ke tempatmu bernaung, sahabatku. Biarkan aku menyelesaikan kewajibanku.” Umar r.a kembali menyeret sapinya sambil terseok-seok menempuh perjalanan di bawah terik matahari.

Utsman r.a. hanya bisa memandangi sahabatnya berlalu dari hadapannya dengan rasa haru mendalam. “Engkau adalah cerminan seorang pemimpin negara. Dan kau memberi contoh yang sulit diikuti oleh penerusmu,” gumamnya.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a mendapati Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a berjalan terburu-buru di Medinah. Ia bertanya kepada Umar r.a, “Hendak ke mana, wahai Amirul Mukminin?”

Sambil terus berjalan, Umar r.a menjawab singkat, “Seekor unta sedekah kabur!”

“Tidak adakah orang lain yang bisa mencarinya selain dirimu?” tanya Ali r.a.

Kemudian Umar r.a menjawab, “Demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran. Seandainya ada seekor kambing kabur ke sungai Efrat, Umar-lah yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di akhirat kelak!”

Ali r.a. berkata, “Kau telah memberikan teladan yang melelahkan bagi penerusmu.”

Pada riwayat yang lain dikisahkan pula bahwa di musim panas yang terik membakar tanah padang pasir dan mengembuskan angin kering, utusan dari Irak yang dipimpin oleh Ahnaf bin Qais r.a mendatangi Umar bin Khaththab r.a.

Mereka mendapati Amirul Mukminin tengah melepas sorban dan berbalut selendang untuk mengurus unta sedekah. Salah seorang dari utusan tersebut berkata, “Tidakkah sebaiknya engkau memerintahkan seorang hamba sahaya untuk mengurus unta sedekah sehingga engkau tidak perlu melakukan hal ini?”

Umar r.a menjawab dengan rendah hati, “Hamba mana yang lebih menghamba daripadaku? Barangsiapa yang memegang wewenang atas urusan kaum muslimin, ia bertanggung jawab atas mereka. la memiliki kewajiban atas mereka sebagaimana kewajiban seorang hamba kepada tuannya, yaitu memberi nasihat dan menyampaikan amanat!”

Gaji Seorang Amirul Mukminin

Sebelum diangkat menjadi khalifah, Umar bin Khaththab r.a menafkahi keluarganya dari usaha berdagangnya. Namun, setelah diangkat menjadi khalifah, tidak ada waktu baginya untuk mengurus perdagangannya. Artinya, ia tidak memiliki penghasilan yang dapat digunakan untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.

Para sahabat berkumpul untuk menentukan besarnya tunjangan yang akan diberikan kepada Umar r.a. Mereka pun memberi usulan berbeda-beda. Namun, tidak ada pendapat yang cocok di hati Umar r.a. Kemudian Umar r.a melihat Ali bin Abi Thalib r.a hanya diam saja. la pun menanyakan pendapat Ali r.a. tentang besaran tunjangan yang layak baginya, “Bagaimana menurutmu, Ali?”

Ali r.a menjawab, “Ambillah uangyang bisa mencukupi keperluan keluargamu.” Pendapat itu sangat menyenangkan hati Umar r.a. Akhirnya, mereka menetapkan uang tunjangan sebesar permintaan Umar r.a sendiri.

Dengan kebebasan Umar r.a. menentukan uang gajinya, apakah ia memanfaatkan peluang itu untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya dari Baitul Mal? Ternyata tidak sama sekali. Para sahabat melihatnya, ternyata ia hanya mengambil gaji ala kadarnya hingga kehidupan keluarganya menjadi susah.

Setidaknya itulah pandangan orang lain yang melihat kehidupan keluarga Umar r.a. Namun, Umar r.a. memiliki pendapat lain. la merasa bahagia dengan keadaannya tersebut. Ia tidak kemaruk sehingga memanfaatkan jabatannya untuk mendapat fasilitas kemewahan dari negara, tidak sama sekali.

Melihat kondisi perekonomian khalifah seperti itu, akhirnya para sahabat berkumpul untuk membicarakan tambahan tunjangan bagi Amirul Mukminin yang zuhud tersebut. Mereka merasa tunjangan yang diminta Umar r.a terlalu kecil.

Akan tetapi, bagi mereka yang mengenal karakter Umar r.a sudah bisa memastikan bahwa sang khalifah tidak akan setuju dengan rencana penambahan uang tunjangannya. Kemudian mereka meminta Hafsah r.a., putri kesayangan Umar r.a sekaligus Ummahatul Mukminin (ibu orang mukmin atau para istri Nabi saw.) untuk menyampaikan hal tersebut kepada ayahnya dan melihat reaksinya.

Hafsah r.a pun menyampaikan amanat para sahabat kepada ayahnya. Setelah mendengar usulan itu, bukan main geramnya Umar r.a. Wajahnya memerah mengesankan amarah dan kecewa. Ia bertanya kepada putrinya dengan garang, “Siapa yang berani mengajukan usul seperti itu? Akan saya pukul wajah mereka!”

Dengan rasa ciut, Hafsah r.a mencoba menenangkan, “Tenanglah, Ayahku. Mereka hanya ingin membantumu!”

Umar r.a kembali bertanya, “Hafsah! Selama kau bersama Rasulullah saw., ceritakanlah pakaian terbaik beliau yang ada di rumahmu!”

“Pakaian terbaiknya hanyalah pakaian yang berwarna merah, yang dipakai pada hari Jum’at dan ketika menerima tamu”, jawab Hafsah r.a mengingat kehidupan suaminya dulu.

“Lalu, makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah saw di rumahmu?” tanya ayahnya kembali.

Hafsah r.a pun menjawab, “Roti yang dibuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak. Pernah aku memberinya roti beroleskan mentega dari dalam kaleng yang hampir kosong. Beliau memakannya dengan nikmat dan membagi-bagikannya kepada orang lain.”

“Apa alas tidur yang paling baik yang pernah digunakan Rasulullah saw. di rumahmu?”

“Sehelai kain tebal, yang pada musim panas kain itu dilipat empat sebagai alas tidurnya. Sedangkan, pada musim dingin dilipat dua, separuh sebagai alas, separuh lainnya beliau jadikan selimut,” jawab Hafsah r.a kembali.

Merasa puas telah mengingatkan putrinya tentang kehidupan Rasulullah saw, suaminya, Umar r.a berkata, “Sekarang pergilah kepada mereka! Katakan bahwa Rasulullah telah mencontohkan suatu pola hidup dan merasa cukup dengan apa yang ada demi mendapatkan akhirat. Abu Bakar telah melakukan hal yang sama. Diriku dan mereka berdua bagaikan musafir yang menempuh jalan yang sama. Musafir pertama telah sampai ke tempat tujuannya dengan membawa perbekalannya. Begitu pula musafir kedua yang telah mengikuti jejak perjalanan musafir pertama juga telah sampai ke tujuannya. Musafir ketiga kini baru memulai perjalanannya. Jika mengikuti perjalanan musafir sebelumnya, tentu akan bertemu mereka di penghujung jalan. Namun, jika tidak mengikutinya, sudah tentu tidak akan pernah sampai ke tempat mereka.”

Pidato Abu Bakr Ash-Shiddiq

Wafatnya Rasululullah saw meninggalkan duka yang sangat dalam di hati para sahabat. Meskipun demikian, bukan berarti perjuangan berhenti begitu saja. Tampuk kepemimpinan harus terus bergulir untuk menjaga dan mengurus umat, terutama dalam menyiarkan syariat Islam yang telah sempurna.

Masyarakat pun sepakat bahwa tampuk pimpinan diberikan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, baginya, jabatan sebagai khalifah bukanlah pekerjaan yang didamba-dambakan. Terdapat tanggung jawab yang besar kepada Allah SWT dan rakyatnya. Dirinya merasa belum layak menjadi pemimpin. Hal ini tergambar dalam pidatonya ketika menerima jabatan sebagai khalifah pertama.

“Hadirin sekalian, sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pemimpin atas kalian, bukan berarti aku yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku. Dan, jika aku bertindak keliru, luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan.

Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah. Sebaliknya, siapa yang kuat di antara kalian, dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya.

Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan. Dan, tidaklah suatu kekejian terbesar di tengah suatu kaum, kecuali azab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut.

Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Namun, jika aku tidak mematuhi keduanya, tiada kewajiban atas kalian taat terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat! Semoga Allah merahmati kalian!”

Wanita Terhormat

Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama yang kaya dan dermawan. Suatu ketika seorang wanita sederhana datang mengadu kepadanya. la berpikir bahwa wanita tersebut akan meminta sedekah darinya, sebagaimana kebanyakan orang.

Namun, sebelumnya ia mendengarkan pengaduan wanita tersebut dengan saksama, “Tuan, saya adalah ibu rumah tangga yang telah ditinggal mati suami. Setiap hari saya bekerja siang hingga malam. Siang hari saya bekerja mengurus anak-anak dan rumah tangga, sedangkan malam hari saya merajut benang untuk dijual sebagai penghasilan kami. Namun, saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli lampu sehingga saya biasa mengerjakannya di bawah sinar rembulan.”

Mendengar cerita wanita tersebut, Imam Ahmad tergerak hatinya untuk menolong. Apalagi jika yang ia butuhkan hanya sebuah lampu. Namun, ternyata cerita itu belum selesai. Imam Ahmad mengurungkan niatnya untuk memberi sedekah demi mendengarkan kelanjutan cerita wanita tersebut.

Sambil menarik nafas, wanita itu mengadu kembali dengan wajah penuh kesedihan, “Hingga pada suatu ketika, kafilah milik pemerintah berkemah di depan rumah saya. Lampu-lampunya terang benderang karena banyak jumlahnya. Saya pun segera memanfaatkan cahaya tersebut untuk merajut. Akan tetapi, setelah pekerjaan saya selesai, saya bimbang, apakah rajutan itu jika dijual, hasilnya halal dimakan oleh saya dan anak-anak? Sebab saya menggunakan lampu yang minyaknya dibeli dari uang negara yang sudah barang tentu adalah uang rakyat juga.”

Imam Ahmad terkesan dengan kegundahan wanita tersebut yang khawatir dirinya telah mencuri uang rakyat. Sudah pasti ia bukan wanita sembarangan hingga memiliki ketajaman nurani seperti itu.

Imam Ahmad pun bertanya, “Siapakah engkau sebenarnya?”

Dengan nada tertekan karena kegundahannya, wanita itu menjawab, “Saya adalah adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Alangkah terkejutnya Imam Ahmad mendengar jawaban dari bibir wanita tersebut. Ternyata sosok wanita yang berada di hadapannya itu adalah wanita terhormat, adik seorang gubernur yang adil dan dimuliakan semasa hidupnya, Basyar Al-Hafi

Rasa haru membuncah karena melihat kondisi keluarga gubernur berada dalam kemiskinan. Mereka adalah keluarga terhormat yang tidak sewenang-wenang menggunakan uang rakyat untuk kesenangan duniawi mereka. Pantas saja sang adik begitu khawatir seandainya dirinya memakan uang rakyat karena kakaknya pun mengharamkan demikian untuk keluarganya.

Demi menjaga kemuliaan wanita tersebut, Imam Ahmad menjawab kegelisahannya, “Ketika semua orang berlomba-lomba memanfaatkan peluang untuk menghabiskan dan menggerogoti uang rakyat melalui jabatan yang diamanahkan kepadanya, ternyata masih ada wanita semulia dirimu yang khawatir terciprat hak milik rakyat dan mempertanyakan kehalalannya. Sungguh, sehelai rambutmu lebih mulia daripada berlapis-lapis sorban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dipakai para ulama. Demi Allah, untuk wanita semulia engkau, ada baiknya menghindari hasil rajutan yang kauragukan kehalalannya meskipun apa yang kaulakukan pada dasarnya diperbolehkan karena tidak merugikan perbendaharaan negara.”

Pemuda Tampan

Ahnaf bin Qais r.a didatangi oleh seorang pemuda dari Suku Thai. Pemuda itu memancarkan aura cahaya yang menyenangkan hati. Ketampanannya sangat beda dengan ketampanan para pemuda tampan pada umumnya. Semua orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan pesonanya, termasuk Ahnaf r.a.

Saat itu Ahnaf r.a menduga ketampanan pemuda itu karena ia rajin berolahraga dan selalu menjaga kesehatan kulitnya dengan biaya dan perawatan mahal. Namun, ia tidak begitu yakin sebelum bertanya langsung kepada orang tersebut. Kemudian Ahnaf r.a mendekati pemuda itu seraya bertanya, “Hai anak muda. Apa rahasiamu sehingga memiliki wajah yang tampan ini?”

“Resepnya ada empat,” jawab pemuda itu cepat.

“Apakah itu?” tanya Ahnaf r.a. kembali.

“Pertama, apabila orang berbicara kepadaku, aku mendengarkannya dengan baik. Kedua, apabila berjanji, pasti kutepati. Ketiga, apabila diriku diperhitungkan orang maka aku relakan. Keempat, apabila aku dipercaya, aku tidak mau mengkhianatinya,” jelas pemuda itu.

Sambil memikirkan jawaban pemuda tersebut, Ahnaf bin Qais r.a. bergumam, “Inilah pemuda yang tampan luar dalam.”

Tak Takut Dibilang Bodoh

Imam Malik adalah sosok alim ulama yang rendah hati. Meskipun ia selalu belajar dan menimba ilmu dari 900 orang guru, ia tidak pernah merasa dirinya paling pintar. Imam Malik berkata, “Sering kali aku tidak tidur semalam suntuk untuk memikirkan jawaban atas permasalahan yang diajukan kepadaku.”

Suatu hari salah seorang muridnya datang dari suatu daerah yang jauh. Masyarakat tempat ia tinggal memiliki masalah penting yang belum terselesaikan. Sang murid bermaksud untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya, Imam Malik.

Akan tetapi, Imam Malik tidak bisa memberikan jawaban kepadanya karena memang beliau tidak tahu jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan sejujurnya, beliau berkata, “Aku tidak tahu.”

Tentu saja sang murid menjadi kecewa. Lalu, ia berkata, “Apakah aku harus mengatakan kepada orang-orang bahwa Imam Malik tidak tahu?”

“Ya!” Jawab Imam Malik, “Katakanlah kepada kaummu bahwa aku tidak tahu!”

Pernyataan Imam Malik ini mungkin bagi sebagian orang pintar merasa bisa menjatuhkan harga dirinya karena akan dianggap bodoh. Bahkan, untuk menghindari agar tidak disebut orang bodoh, ia akan berusaha untuk mengada-adakan jawaban tanpa memedulikannya, apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.

Hal itu tidak berlaku bagi Imam Malik. Jika memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu, beliau lebih memilih mengatakan sejujurnya bahwa tidak mengetahui jawaban daripada harus mengatakan bahwa ia tahu semua tanpa ilmu.

Ia mewarisi sifat jujur Nabi saw ketika menetapkan suatu jawaban atas permasalahan. Jika Rasulullah saw menanti wahyu untuk mengetahui jawabannya, Imam Malik akan belajar dan belajar lagi hingga menemukan ilmu yang benar untuk menjawab permasalahan di atas.